What We Need is Here

Geese appear high over us,
pass, and the sky closes. Abandon,
as in love or sleep, holds
them to their way, clear
in the ancient faith: what we need
is here. And we pray, not
for new earth or heaven, but to be
quiet in heart, and in eye,
clear. What we need is here.
(Wendell Berry from The Collected Poems of Wendell Berry, 1957-1982)

What we need is here… Sedemikian sederhananya kalimat itu mengalir dari bibir Sang Guru Bijak Bestari, yang coba mengajari Sang Sisya untuk mengerti; saiki, nang kene, ngene (saat ini, di sini, begini) demikian falsafah Jawa-nya. Sebagian orang Jawa yang njawani (menghayati falsafah Jawa) telah memahaminya dari anggukan lubuk sanubari, namun bagi sebagian lainnya yang mungkin lebih bertumpu pada logika otak kiri, semua wejangan dan dogma itu berasa hambar layaknya teori…

Demikianlah halnya ketika dalam beberapa momen kepamongan (coaching) yang saya (Sang Sisya) jalani, kalimat wejangan tadi serasa jauh panggang dari api, sesaat pikiran memunculkan histori, sekejap berikutnya menimbulkan asumsi, dan berikutnya; histori masa lalu dan asumsi masa depan campur aduk jadi ilusi… Iya, ilusi… setidaknya demikianlah para Begawan kasunyatan (mindfulness) mendefinisi. Apa pun yang terlintas dalam pikiran adalah ilusi, karena kenyataan berada pada jeda kasunyatan, yaitu di saat ini, di sini, begini.

Saat ini adalah representasi waktu, katanya tak ada momen yang paling berharga kecuali di detik ini, detik yang sedetik sebelumnya adalah masa silam dan detik berikutnya adalah masa depan merupakan tempat dimana intensi, atensi, dan inspirasi tertinggi hadir menitis dalam kesendirian atau kebersamaan; ia hadir pada saat kita menjadi pengobservasi atas keriuhan pikiran tanpa terbajak dan tersandera oleh pikiran itu, untuk kemudian detik itu pula sadar, ingat, dan kembali pada saat ini.

Di sini adalah manifestasi ruang, katanya pula manusia hanya mampu berada di satu tempat di satu waktu, dan di waktu saat ini-lah keberadaan yang disadari merupakan bentuk kehadiran yang paripurna; sadar penuh dan hadir utuh bahwa saya saat ini sedang menulis, sedang berjalan, sedang makan, sedang berlari, sedang mengajar, atau sedang menjalani kepamongan. Menyadari setiap nafas, indera, dan tubuh yang menjadi satu dalam kerasahadiran.

Begini adalah dimensi jiwa, jiwa yang katanya selalu menerima apa pun apa adanya, menerima situasi apa adanya, bertanya apa adanya, merasa apa adanya, menerima ketidakmengertian apa adanya, menerima ketidakhadiran selayaknya dengan apa adanya, menerima ketidakmampuan saat ini apa adanya.

Empat saja katanya tabir dari kasunyatan untuk berada di saat ini, di sini, begini; yaitu pengetahuan, penghakiman, kesangsian, dan ketakutan. Karena katanya pengetahuan adalah lawan dari pembelajaran, penghakiman adalah lawan dari keterbukaan pikiran, kesangsian adalah lawan dari keterhubungan, dan ketakutan adalah lawan dari jati diri yang sejatinya telah paham dengan segala jawaban….

Sampurasun 🙏

”Our job is to open our eyes to see and appreciate all those simple and sacred ‘secrets’ hidden in plain sight” Wendell Berry