The Being of Coaching (2/2)

“If one is estranged from oneself, then one is estranged from others too. If one is out of touch with oneself, then one cannot touch others.”
Anne Morrow Lindbergh

Dalam artikel sebelumnya mengenai paradoks dalam melayani; bahwa kita perlu menemukenali potensi diri melalui penempaan diri lewat latihan dan praktek tiada henti, sehingga penguasaan pemahaman yang paripurna kemungkinan besar akan memberikan dampak pelayanan yang lebih bermakna.

Pengakuan atas kemampuan berdasarkan sebuah standar ukuran merupakan pencapaian, namun yang lebih penting adalah pemahaman terhadap paradoks lainnya mengenai infinitas pembelajaran; pembelajaran yang terus menerus, namun setiap siklus merupakan pembelajaran yang baru. Melepaskan pemahaman lama untuk pergi dan menerima pemahaman baru untuk dapat sepenuhnya dipelajari.

Dr. Humberto Maturana dalam bukunya The Tree of Knowledge mengatakan bahwa tahapan pertama dalam pembelajaran Homo Sapiens Sapiens (yang berarti: manusia yang tahu bahwa ia tahu) berawal dari iterasi mengamati-melakukan, setiap iterasi menambah pengetahuan dan pengalaman baru, dan di setiap akhir iterasi, otak Homo Sapiens Sapiens secara sadar atau tidak sadar akan menyimpulkan pengalamannya dalam bentuk penjelasan ilmiah (scientific explanation).

Ada dua jenis observasi yaitu yang pertama observasi ke luar dirinya (observing the doing) dan yang kedua adalah observasi ke dalam dirinya (observing the being). Dua-duanya merupakan proses pembelajaran yang saling mempengaruhi. Seperti halnya filosofi Bushido; setiap pukulan di momen yang berbeda walaupun berasal dari jurus yang sama memiliki kebijaksanaan yang berbeda pula. Setiap latihan atau interaksi memiliki distingsinya sendiri, sehingga penggunaan template, atau jurus, atau pola doing yang tidak observatif kemungkinan besar tidak akan memunculkan kebijaksanaan being yang beresonansi optimal dalam jiwa-jiwa yang tengah berinteraksi.

Kepamongan (coaching) merupakan contoh yang menurut saya relevan dengan pemahaman ini. Bahwa setiap proses menjadi seorang pamong (being a coach) adalah proses mengamati-melakukan tiada henti sepanjang hari. Menurut saya pelayanan menjadi pamong bukanlah berganti peran dari yang semula ‘bukan pamong’ kemudian berperan menjadi pamong dikarenakan situasi. Menurut saya pelayanan menjadi pamong adalah fitrah kemanusiaan apa pun situasinya. Setiap helaan nafas adalah momen kepamongan.

Anne Morrow Lindbergh pada quote awal tulisan menyampaikan dengan seksama perihal ini; bilamana seseorang tidak memahami dirinya, ia kemungkinan tak akan mampu memahami orang lain. Bilamana seseorang tak mampu menyentuh (jiwa)nya sendiri, ia kemungkinan tak akan mampu menyentuh (jiwa) orang lain.

Sampurasun 🙏