The Being of Coaching (1/2)

“(Coaching)* service is the rent we pay to be living. It is the very purpose of life and not something you do in your spare time.”
Marian Wright Edelman

Saya baru-baru ini menyadari ketika menyimak ulang rekaman percakapan dengan coach supervisor saya awal minggu ini mengenai shifting from doing to being, sejujurnya saya belum mengalami (experiencing) being a coach, walau secara teori pemahaman tentang way of being (jalan hidup) saya dapatkan saat masih berusia belasan tahun, seorang anak ingusan yang ingin jadi jagoan lalu bergabung dengan perguruan bela diri agar tidak di-bully dan (kalau bisa) ditakuti.

Bermodal Gi (baju latihan) dan ongkos angkot pulang-pergi, setiap minggu saya datang ke dojo untuk menimba ilmu berkelahi, yang mana hari pertama saya datang kesana saya menjadi sedikit bimbang. Karena yang pertama diajarkan bukanlah bagaimana mengalahkan orang lain, namun bagaimana mengalahkan diri sendiri (kurang lebih demikian dogmanya) yang belakangan saya ketahui hal itu merupakan filosofi Bushido; jalan hidup para ksatria.

Saya dijejali dogma dalam setiap jurus bahwa belajar bela diri tidak hanya belajar tentang bagaimana caranya berkelahi, namun menempatkan nilai yang lebih tinggi dari sekedar kekuatan fisik dan teknik, yaitu untuk melayani; melayani kemanusiaan, melayani kebenaran, melayani mereka yang lemah dan tertindas. Jadi lupakan soal menjadi jagoan atau keinginan untuk ditakuti (atau puja puji agar diakui). Paradoksnya untuk melayani, kita perlu menemukenali potensi diri, sehingga pelayanan dengan penguasaan pemahaman yang paripurna kemungkinan besar akan memberikan dampak yang lebih bermakna pula.

Kembali ke rekaman percakapan tersebut, saya mencoba menghubungkan dua titik yang berbeda konteks namun satu konsep, konsep tentang bela diri atau kepamongan sebagai sebuah filosofi pelayanan; yang mana kemampuan kepamongan yang didapatkan adalah sebuah pinjaman (atau lebih tepatnya dipinjamkan) sebagai jalan hidup mengejawantahkan pelayanan dalam setiap helaan nafas dan setiap detik kesadaran, dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Coaching way of being adalah filosofi yang bukan sekedar memenuhi serangkaian kompetensi, bukan hanya sebuah titel profesi, bukan juga bukti selembar sertifikasi dan akreditasi, bukan sekedar ratusan jam sesi, bukan juga sekedar sebuah interaksi, bukan pula sekedar kesepakatan transaksi, apalagi sekedar mencari solusi. Coaching Way of Being adalah tentang bagaimana melayani selepas menjawab pertanyaan “who are we, really?”

Sampurasun 🙏🏼

(*) I intentionally put the word coaching before the word service based on personal opinion that the quote is somewhat relevant with coaching way of being.