Respect

“There is no such thing as business ethics, there is only ethics”Marshall Goldsmith

…and so then; “There is no such thing as coaching ethics, there is only ethics”

…and so then; “There is no such thing as coaching respect, there is only respect”

Kita kadang mendefinisikan segala sesuatu sedemikian komprehensifnya, untuk sering kemudian terkurung hingga terkungkung dalam pagar definisi itu sendiri. Untuk itu pagi ini selepas ibadah pagi dan meditasi, mohon ijin saya berbagi perenungan men-dekonstruksi sebuah kata yang cukup mendasar dalam dunia coaching, yaitu respect

Respect dalam Bahasa Inggris didefinisikan sebagai  “a feeling of deep admiration for someone or something elicited by their abilities, qualities, or achievements”  (sebuah bentuk perasaan kekaguman yang mendalam terhadap seseorang atau sesuatu yang timbul terhadap kemampuan, kecakapan, atau pencapaian). Dan dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan langsung menjadi “hormat” atau “menghormati”

Sebagai landasan linguistik, saya menawarkan untuk meluaskan definisi “menghormati” yang terkesan patronistik dan paternalistik serta cenderung menciptakan jenjang siapa yang lebih tinggi dan siapa yang tidak lebih tinggi; menjadi  “menghargai” yang lebih egaliter namun tetap lekat dan kuat makna asalnya.

Ernesto Sirolli dalam salah satu sesi TED Talk-nya mengatakan ‘respect adalah pondasi etika dari sebuah interaksi, bila mereka tidak mau, tinggalkan mereka, hargai ketidakmauan mereka’.  Demikian pula respect adalah pondasi etika dalam coaching.

Tidak ada setitik pun hak yang melekat dalam diri seorang coach untuk mengubah, menunjukkan arah, menginspirasi, memotivasi, mengayomi, memperbaiki, membantu, menolong, mengajari, menggurui, apalagi memberi dogma, teori, konsepsi, referensi, asumsi, atau apa pun… terkecuali melayani  sang coachee dengan cara menghayati intensi, menyajikan atensi, dan menemani aksi sesuai kebutuhan, keinginan, dan perhatian sang coachee. Memfasilitasi pembelajaran melalui provokasi atas konteks yang relevan bagi sang coachee.

Respect mungkin terdengar agung di awang-awang, namun ia adalah pengejawantahan kerendahan hati yang membumi untuk menghargai jiwa tiap-tiap coachee yang unik, yang terhadirkan di hadapan seorang coach, dan tugas seorang coach adalah menghadirkan sebaik-baiknya kompetensi sebagai seorang coach untuk menghargai kehadiran sang coachee, lalu saling hadir merasakan jiwa masing-masing dalam sesi berdansa bernama coaching bersama…

Sampurasun,
7 Suklapaksa, Asada 1953 Caka