Rela di atas Rindu

Terimalah setiap musim yang singgah di atas ladang hatimu,
Sebagaimana halnya kamu menerima setiap musim yang silih berganti di atas ladang gandummu”

…Demikian pujangga Kahlil Gibran pernah berkata

Musim yang tak perlu kau usir dan kau maki keberadaannya
Juga tak usah kau peluk cium atau kau dekap erat karena deru rindunya

Ia selalu ada lalu tiada
Ia berganti sesuai masanya
Kadang ia bertamu di waktu tak terduga
Sering ia ingin dijamu lebih lama

Terimalah keberadaannya seperti kau terima ketiadaannya
Tanpa kau bumbui dengan senyuman atau tangis merana
Tanpa kau warnai dengan rasa amarah atau sorak sorai gembira

Karena penerimaan adalah rasa di atas rasa
Rasa yang telah bebas dari hiruk pikuk baik-buruk dan benar-salah
Rasa yang merdeka dari label manusia tentang pahala dan dosa
Ia adalah rasa yang dianggap biasa di ambang batas bahasa

Ialah rasa berserah sepenuhnya, yang hadir di dasar jiwa
Ialah kesadaran bahwa yang terjadi memang demikian adanya
Rasa yang rasanya tiada daya upaya yang lebih mahadaya selain rela

Rela dalam kesabaran
Rela dalam ketidaksabaran
Rela dalam ketenangan
Rela dalam ketidaktenangan
Rela dalam kepastian
Rela dalam ketidakpastian
Rela dalam kerendahhatian
Rela dalam ketinggihatian
Rela dalam kebahagiaan
Rela dalam kemelaratan
Rela dalam keberlimpahan
Rela dalam label apa pun yang dilekatkan manusia yang berujung pada ukuran

Rela dalam doa yang terhatur dalam setiap kata
Rela di atas rindu seorang makhluk pada Tuhannya

Sampurasun

#RenunganMalam