Mulat Sarira

Mulat sarira, adalah sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali;  yang bila diterjemahkan memiliki arti introspeksi (mengamati ke dalam) diri, mulat sarira merupakan konsep untuk sadar, ingat, dan kembali, menemui (bukan menemukan) diri yang sejati. Kata ‘menemui’ yang berarti bertemu dengan yang selalu ada, berbeda dengan kata ‘menemukan’ yang berkonotasi mendapatkan dari pencarian akan sesuatu yang hilang.

Proses meniti ke dalam diri ini; Orang Yunani Kuno menyebutnya Henosis (mengenali diri melalui napas), Orang Romawi Kuno menyebutnya Spiritus (latihan mengamati napas), Sang Buddha menyebutnya Vipassana (meditasi napas), Yesus Kristus dan umat kristiani menyebutnya retreat (menarik diri dari keriuhan dan berada sejenak pada keheningan untuk bersama diri sendiri). Muhammad SAW mengajarkan shalat yang menjadi media latihan menyadari bacaan setiap ayat, napas, dan gerakan, yang sangat personal untuk menghadirkan jiwa yang terhubung kepada Sang Pencipta.

Di belakang hari, ajaran murni ini tercampur dengan ekspektasi untuk menjadi sukses, untuk menjadi mulia, untuk sembuh, untuk sehat, untuk menjadi baik, untuk menjadi bijaksana, dan seterusnya. Saya tidak menghakimi, hanya mengamati, menurut saya adanya ekspektasi sah-sah saja, karena merupakan bagian dari sifat kemanusiaan yang memiliki hawa nafsu, keinginan, dan pengharapan, namun dalam konteks ini ia dapat menjadi faktor antitesis dalam proses mulat sarira.

Latihan meniti ke dalam diri ini sedianya tanpa ekspektasi apa pun, namun penuh rasa terima kasih, rasa syukur atas segala yang kita temui. Bisa jadi itu cinta, atau justru benci. Bisa jadi itu kasih sayang, atau justru keinginan memiliki. Bisa jadi itu berupa kerendahan hati atau justru arogansi. Bisa jadi itu ialah kebijaksanaan, kebajikan, atau justru ego dan iri dengki. Apapun yang kita temui bahkan saat kita menemui sang ekspektasi, terimalah semuanya dengan apa adanya sebagai anugerah Sang Maha Kuasa.

Nabi Muhammad SAW mengucapkan kata-kata: “Seseorang yang menemui (mengenali) dirinya, akan menemui (mengenali) Tuhannya.” Saya mendengar petuah dari Yunani kuno, “Kenali dirimu”, dan saya membaca Krishna bernyanyi kepada sahabatnya Arjuna di medan perang Kurusetra, “Dirimu ialah teman sekaligus musuh sebaik-baiknya.”

Mulat sarira ialah ajakan untuk sejenak berhenti bersandar pada faktor materi dan mulai untuk bersandar pada yang hakiki, pada yang abadi, pada yang tak terdefinisi, pada yang bebas dari ekspektasi, pada yang awal sekaligus yang akhir. Semua berawal dari kesadaran diri untuk mengamati dan menerima sepenuhnya unsur fisik (raga), non-fisik (hawa nafsu/ pikiran, emosi, dan ego), dan metafisik (jiwa).

Doa saya pagi ini, kiranya sahabat-sahabat jiwa di sini berkenan menemani saya latihan mulih ka jati mulang ka asal (pulang sebelum dipanggil pulang), meniti jalan menemui diri ini, menyadari setiap saat, setiap detik, setiap hari, setiap jeda dan henti, setiap helaan nafas hingga usai terhembus nanti…

Sampurasun 🙏🏼