Mikul Dhuwur Mendhem Njero

Falsafah Jawa tentang mikul dhuwur (menjunjung setinggi-tingginya) dan mendhem njero
(mengubur sedalam-dalamnya) kepada orang yang patut dihormati seperti orang tua (terutama orang tua kandung), pemimpin, atasan, guru, dan orang-orang lainnya yang berjasa kepada kita.

Falsafah ini bagi orang Jawa merupakan tanda keimanan kepada Tuhan. Yang mana Tuhan memerintahkan kita agar menghormati orang-orang yang telah melahirkan, mendidik, dan mengayomi tadi dengan perilaku ini. Yaitu menjunjung tinggi kehormatan mereka dan menutupi aibnya.

Karena gerbang dari ridha Tuhan adalah dengan merasa dihargainya orang-orang ini kepada kita yang berlaku hormat terhadapnya. Orang tua yang telah melahirkan kita, walaupun sejahat-jahatnya di mata masyarakat dan di mata kita tetap harus dihormati sedemikian rupa, sehingga ada perumpamaan Jawa yang mengatakan bilamana tubuh seorang anak dirajang sekalipun, tak cukup menutupi hutang baktinya kepada orang tuanya.

Tidak berarti dengan mikul dhuwur mendhem njero, kita dituntut menuruti segala perintah mereka tanpa kecuali. Bilamana perbuatan yang diminta tersebut tidak selaras dengan hati nurani dan kemanusiaan, maka kita diperbolehkan untuk tidak menurutinya dengan tetap menunjukkan rasa hormat dan sayang yang tak berkurang, sambil menyampaikan pendapat yang selaras dengan hati nurani.

Bilamana tetap mereka tidak mau mengerti, kita tetap boleh berada pada pendirian kita dengan tetap menjaga kehormatan mereka dan menutupi aibnya dari pengetahuan umum sehingga mereka tetap merasa dihargai dan terjaga kewibawaannya.

Bilamana kita sebagai seorang anak/ bawahan/ murid pernah lancang dan khilaf menjatuhkan harkat martabat orang yang seharusnya dihormati itu, namun telah tidak memiliki kesempatan untuk meminta maaf karena sesuatu dan lain hal, misalnya mereka telah berpulang. Maka belum akan terbuka ridha Tuhan kepada kita sebelum kita memohon ampun kepada Tuhan atas kelancangan dan kekhilafan itu, kecuali Tuhan berkehendak lain.

Ada beberapa cara untuk membuka ridha Tuhan tadi yaitu dengan mendoakan, meminta maaf, dan memaafkan mereka dalam ibadah dan doa kita. Bukan bertujuan semata-mata pamrih karena takut akan ketiadaan ridha Tuhan tadi, namun lebih merupakan sikap untuk melepaskan reribed (ego) yang bersemayam dan bertahan di dalam kalbu, dan menyerahkan segala sesuatunya pada kekuasaan Tuhan kala kita telah berserah sepenuhnya.

Wallahu a’lam Bishawwab (Hanya Allah Yang Maha Mengetahui)