Makna DEWASA

Pertanyaan mengenai “apakah tujuan hidup manusia?” yang mungkin dijawab “menjadi sebaik-baiknya manusia/ jiwa paripurna”, lalu diikuti pertanyaan lagi “seperti apakah jiwa paripurna itu?” yang mungkin dijawab “ialah jiwa yang dewasa” lalu berlanjut pada pertanyaan berikutnya “yang bagaimanakah jiwa yang dewasa itu?”

Dewasa dalam kosa kata manusia-manusia Nusantara terdiri dari dua kata, yaitu “Dewa” dan “Manusa (manusia)”. Jiwa yang dewasa adalah jiwa yang mencapai derajat dewa namun tetap hadir utuh memenuhi tugas sebagai manusia.

Dalam bahasa agama, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena manusia merupakan gabungan dari manifestasi cahaya yang berbentuk jiwa, bergabung dengan tanah, air, dan udara, yang berbentuk raga, ditambah api yang merupakan manifestasi hawa (nafsu) yang menempel pada raga.

Saat kematian tiba, cahaya jiwa akan kembali kepada Sang Maha Cahaya. Sedangkan tanah, air, udara, dan api akan kembali beredar di alam semesta sampai waktu di mayapada terhenti oleh Kehendak-NYA.

Manusia tidak ditugaskan oleh Tuhan untuk mencapai kesadaran cahaya malaikat yang tanpa hawa, juga tidak diciptakan seperti halnya iblis yang hawa semata. Manusia ada di antaranya, ditugaskan mencapai kesadaran cahaya dengan balutan raga (panca indera, tubuh) dan hawa (pikiran, emosi, dan ego) sebagai pelengkap hakikat kemanusiannya.

Dengan hawa pula, demikianlah manusia yang kemudian ia memiliki kesadaran raga, sehingga ia mampu berkarsa (berkehendak), bercipta (berfikir), dan berkarya yang terasa oleh panca indera.

Namun untuk menjadi manusia paripurna, yang jiwanya ikhlas/ridha pada Tuhan, dan Tuhan ikhlas/ridha pada jiwanya, adalah kepada manusia yang bisa merasa (mengakses kesadaran jiwa) yang mampu memisahkan antara kesadaran jiwa (jati diri) dengan kesadaran raga (tubuh, panca indera) dan kesadaran hawa (pikiran, emosi, ego). Rumusnya sederhana:

Jiwa ≠ Raga

Jiwa ≠ Hawa

Bilamana manusia telah menyadari bahwa jati dirinya bukanlah tubuh, panca indera, pikiran, emosi, dan ego. Maka manusia itu telah memasuki gerbang tingkatan manusia dewasa.

Menjadi dewasa bukanlah tentang usia, atau semata sebuah siklus yang namanya akil baligh. Menjadi dewasa adalah sebuah proses ber-evolusinya atau ber-revolusinya paradigma mulai dari paradigma tingkat pertama yang polos menerima semua pemahaman dunia tanpa filter dan tanpa kecuali, yaitu umum terjadi pada fase janin, bayi dan kanak-kanak.

Dalam paradigma tingkat pertama, manusia telah masuk ke dalam sebuah pola yang menjadi kotak-kotak (agama, gender, bangsa, negara, etnis, bahasa, budaya, politik, sains, dan lain sebagainya) ia mengidentifikasi dirinya sebagai sebagian dari sekian banyak kotak-kotak yang ada sehingga menjadi label terhadap dirinya dan orang lain: misalnya “saya muslim, warga negara Indonesia, etnis jawa, otak kiri, berbahasa Sunda dan Inggris sama baiknya selain Bahasa Indonesia, berkulit gelap khas melanesia”.

Label diri tersebut kemudian membentuk paradigma tingkat kedua, dimana kemudian saya (yang memiliki label) menjadi membedakan dengan yang bukan saya (contoh pernyataannya misalnya: “saya Kristen tapi anda Muslim, atau saya bangsa Asia dan anda Afrika, atau saya dari budaya tanpa marga dan anda sebaliknya, jadi kita berbeda”, dan contoh lain sebagainya)

Manifestasi paradigma tingkat kedua yang biasanya umum terjadi di usia remaja hingga paruh baya adalah riuh-rendahnya persoalan dunia yang tak lepas dari dualitas (benar-salah, benci-suka, sama-beda, dll), yang berujung pada polaritas. Manusia jenis ini tak pernah berhenti berkelahi sepanjang jaman, bertengkar satu sama lain karena perbedaan paradigma tingkat kedua ini. Ada yang ditunjukkan dalam aksi dan perbuatan, ada pula yang dipendam namun membara dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa berkobar dan membakar. Yang paling terakhir tertawa adalah ego, yang berjingkrakan saat pikiran dan perasaan campur aduk hingga berantakan.

Mereka yang merasa cukup dengan paradigma tingkat kedua, kemudian ada yang memiliki kesadaran untuk mencari ketenangan bukan dengan mengasingkan diri dari keriuhan, namun sejenak merenung menggali cahaya di tengah kemelut hitam-putihnya dunia. Mereka yang mampu merasa diri sejatinya bukanlah raga dan hawa kemudian akan mencapai paradigma tingkat ketiga, dimana di tingkat ini jiwa-jiwa mereka telah dewasa. Jiwa yang dewasa adalah jiwa yang mencapai derajat “dewa” atau cahaya, namun cahayanya menjadi benderang dalam tugasnya sebagai “manusia”.

Mengapa disebut derajat dewa? Karena pada derajat kesadaran ini, ia dengan ijin Tuhan mampu menerima semuanya, benar-salah, baik-buruk, kaya-miskin, hitam-putih. Yang tadinya segala sesuatu dilihat dari kacamata kuda dualitas, menjadi berpandangan luas oleh netralitas. Mereka yang mencapai derajat ini bukanlah bertansformasi menjadi dewa/malaikat yang setiap tutur katanya bak mutiara, bestari bijaksana, mulia tanpa cela, yang katanya tak butuh lagi perangkat dunia seperti uang dan semacamnya.

Sekali lagi bukan, mereka hakikatnya tetaplah manusia yang menyadari jiwanya dititipi raga dan hawa oleh Sang Pencipta, contohnya:

  • bila mereka tidak mencari makan dan tidak makan, mereka akan merasa lapar dan membutuhkan makanan untuk memenuhi hak tubuhnya dalam menopang hidupnya
  • bila mereka tidak tahu akan suatu ilmu ya mereka tetap tidak tahu, tidak tiba-tiba jadi jenius, walau kadang timbul ego untuk sok tahu atau tak mau tahu
  • bila mereka ditinggal mati seseorang, mereka mungkin akan merasa sedih juga, kadang terlarut, atau malah suka cita karena terbajak rasa dendam misalnya
  • bila menyaksikan orang yang disayangi menderita karena sakit atau hidup kurang layak mereka mungkin akan merasa gundah gulana juga.
  • bila mereka dihina atau dipuji masih ada hawa egonya yang kadang muncul hingga merasa terusik atau jumawa.

Kadang mereka khilaf terbawa pikiran, emosi, dan egonya, karena sejatinya mereka tetaplah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Yang jadi titik ungkit pada manusia tingkat ketiga adalah kesadarannya untuk sadar, ingat, dan kembali pada yang ESA, bilamana ia khilaf, lupa, dan pikirannya sering mengembara kemana-mana.

Jiwa yang DEWASA sekali lagi adalah jiwa yang menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di kolong langit ini hanyalah ilusi raga dan ilusi hawa belaka, di tengah keterkungkungan konsepsi, emosi, persepsi, dan ekspektasi, setiap helaan napas membawa mereka yang lupa untuk sadar, ingat, dan kembali dan kesadaran atas napas merupakan gerbang memisahkan jiwa dari tak pernah puasnya tuntutan raga dan hawa.

Sampurasun