How is Coaching Impacting Systemic and Cultural Change Within Organizations?

Selama menjalani profesi sebagai pemangku tugas pemberdayaan insani (human being empowerment) di beberapa organisasi, saya mempelajari ada pola yang khususnya terdapat di perusahaan yang berbasis values yaitu; leaders create values, embodied values create culture, culture creates people, people creates system, dan system creates leaders. Pola tersebut bersifat sirkuler dan sistemik. Ada pertanyaan menarik yang saya ingat di sebuah forum: “bilamana sebuah perusahaan menjadi sebesar dan segesit Apple/Google namun juga menjadi the best place to learn and work?”

Jim Collins berargumentasi: In fact, leaders of companies that go from good to great start not with “where” but with “who.” They start by getting the right people on the bus, the wrong people off the bus, and the right people in the right seats. And they stick with that discipline—first the people, then the direction.

Dalam kaitan buku Jim Collins “Good to Great” yang padat akan pembahasan mengenai otentisitas dan kualitas kepemimpinan, ada satu frasa yang selalu konsisten di setiap bab buku tersebut yaitu “right people” bukan “best people”, “right leader” bukan “best leader”, sehingga konteks kepemimpinan yang mengayomi (leader as coach) menurut saya adalah tentang memilih/ menciptakan/ menemukenali “right coach” bukan “best coach”.

Dalam riset ICF disebutkan, ada tiga pertanyaan mendasar untuk mengidentifikasi “right coach” dalam tujuan memastikan proses coaching berdampak pada perubahan budaya yang sistemik di dalam organisasi:

  • First: “What is your purpose as a coach and what is your purpose in engaging with each of your clients?”
  • Second: “What perspectives inform your work as a coach, including the expertise and experience you bring, and what your clients are bringing to the coaching conversation?”
  • Third: “What is the process of working with your client like – what do you actually do and how are you drawing out your client’s compelling stories?”

Tiga pertanyaan tersebut tentu saja memerlukan konteksnya masing-masing agar relevan, dan ketiganya baru merupakan asesmen awal terhadap intention, attention, attitude, atau being, knowing, doing, atau heart, head, hand, sehingga memerlukan asesmen lebih dalam; namun ketiga pertanyaan tersebut pada prinsipnya menggali tentang otentisitas (di atas kualitas) pamong yang mampu menghayati perannya sebagai pemberdaya potensi insani sejati.

Pranala Luar