Falsafah Kepamongan

It is important for us to know and remember as coaches, that reason is not disembodied but arises from the nature of our brains, bodies, and bodily experience. Consequently it is not dispassionate, but is emotionally engaged. It is not purely literal, but largely metaphorical. It is not universal in the transcendent sense; that is, it is not part of the universe. But reason is universal in that it is a capacity shared by all human beings. And it is in this shared human condition that we possess the ability to coach others. (Robert DeFilippis)

Sebagian besar dari konstituen kita; para profesional di profesinya, pebisnis di usahanya, dan individu di dunianya masing-masing, memiliki anggapan bahwa profesi coach adalah profesi yang didominasi oleh aktivitas bertanya. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, di sinilah titik akupunktur filosofi mengenai coaching dihadirkan untuk bersama-sama belajar memahami peran mendasar seorang pamong/coach.

Bila kita merujuk pada definisi coaching versi ICF yang mengatakan sbb: “ICF defines coaching as partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential.” (ICF mendefinisikan coaching sebagai kemitraan bersama klien dalam bentuk proses kreatif memprovokasi pemikiran yang menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesinya)

Yang saya amati dari definisi tersebut; tidak ada kata bertanya di definisi tersebut. Hal ini merupakan paradoks, karena coaching sejatinya merupakan produk filsafat dunia Barat yang berfokus pada intervensi kognitif (thoughts) di area logika (reasoning), dan ICF secara jelas mensyaratkan powerful questioning sebagai salah satu kompetensi intinya. Namun demikian dengan semakin konvergennya dunia coaching dengan neuroscience, embodied cognition, mindfulness, filsafat, psikologi, dan hampir semua ranting ilmu yang berhubungan dengan alam pikiran manusia; maka coaching menurut saya merupakan platform untuk hadir, merasa, dan berada dalam alam pikiran manusia yang menjadi klien kita, untuk sepenuhnya memahami pikiran sadar, bawah-sadar, dan tidak-sadar yang ter-refleksi melalui artikulasi kata-katanya, manifestasi emosinya, dan representasi raganya sang klien.

Bertanya menurut pemahaman saya adalah alat ungkit yang bilamana pertanyaan tersebut diajukan dan menyentuh kesadaran terdalam, akan menciptakan transformasi yang menjadi filosofi utama dari coaching itu sendiri, yaitu membawa klien dari satu tempat di saat ini ke tempat baru dimana klien menemukan jatidirinya, jatidiri yang mampu menjawab setiap persoalan yang tidak melulu mesti bermula dari rentetan pertanyaan, namun dari keterhubungan jiwa coach dan klien yang walaupun tanpa kata-kata, provokasi inspirasi terlimpah dalam rasa dansa bersama.

Kerasahadiran (presencing) dansa bersama tersebut dalam bahasa Joseph Jaworski dinamakan synchronicity. Bahasa Deepak Chopra-nya adalah “Aligned with Universal Intelligence that orchestrates everything