Digital Soul

Should the day come when intelligent machines not only make computations but also think and experience emotions as humans do, how will we distinguish the “human” from the “machine”?  – Thomas Georges, Digital Soul

Buku karya Thomas Georges mengenai disruption in general dan digital disruption in particular; berawal dari sebuah pertanyaan mendasar mengenai relevansi manusia dan kemanusiaan di muka bumi ini, bilamana setiap sendi interaksi telah terkomputasi dan terotomasi, apa nilai tambah homo sapiens sapiens  yang sudah berusia 150.000 tahun? Apakah akan punah seperti halnya dinosaurus untuk kemudian digantikan robot, ataukah berevolusi menjadi  cybernetics organism/cyborg  yang lebih adaptif?

Ketika dunia sains telah mulai merambah pada machine learning, sedikit sekilas tentang nama latin bagi spesies manusia;  homo sapiens sapiens  yang memiliki arti “manusia yang tahu bahwa dia tahu”, sepertinya kapasitas  self learning  sebentar lagi akan dimiliki oleh mesin melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI), sehingga manusia yang menyandang predikat sebagai satu2nya makhluk di kolong langit yang mampu berkarsa (berkehendak), bercipta (berpikir), dan berkarya, akan menjadi tidak relevan lagi.  The end of humanity is near,  demikian kata Thomas Georges.

Kecuali… Bilamana kita menyadari bahwa ada satu potensi yang mungkin akan tetap menjadikan manusia tetap relevan adalah kapasitasnya untuk merasa. Dimana akses merasa ini tidaklah melalui dimensi fisikal (physical intelligence), atau mental (intellectual & emotional intelligence), namun melalui gerbang spiritual (trancendental intelligence) yang bagi sebagian besar penganut hukum positif, saintifik empirik, konsep ini absurd dan tidak dapat dikuantifikasi secara logis.

But that’s exactly the point,  kemampuan untuk melakukan  leap of faith  dari area  epistemology (study of knowing)  ke area  ontology (study of being)  pada dasarnya adalah  the very essence of humanity and being human being.  Sehingga peran coach yang mungkin ‘belum’ (mudah2an tidak akan) tergantikan oleh AI adalah interkoneksi spiritual yang meresonansi sistem limbik  homo sapiens sapiens lain untuk bertransformasi secara fisikal, mental, dan spiritual.

Hal ini mengingatkan saya pada quote yg menurut saya relevan bagi diri saya pribadi sebagai seorang coach:

“It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.” – Antoine de Saint-Exupery, The Little Prince