Bicara Dalam Diam

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini sahabat
Dan kata-kata nyata-nyata tak banyak mengubah apa-apa
Lagi pula, siapakah yang masih sudi mendengarnya?
Semua orang sibuk merangkai kata, tanpa pernah mau mendengar orang lain bertutur kata
Ia tak mampu mendengar hati orang lain dengan hatinya
Ia hanya bisa mendengar isi kepalanya sendiri saja

– Seno Gumira Adjidarma

Kita semua mungkin pernah tahu pepatah “Diam itu emas, dan bicara itu perak”
Kemudian kita terjebak pada asumsi bahwa diam itu baik
Kita sering terdiam dalam ketidaktahuan
Lalu kita enggan bertanya, karena katanya bicara itu sepertiga nilainya.

Lalu katanya bolehlah bertanya tapi harus memenuhi 3 kriteria:
– Apakah pertanyaan itu perlu?
– Apakah pertanyaan itu untuk mengungkapkan kebenaran?
– Apakah pertanyaan itu tak menyakiti hati orang?

Kalau tidak memenuhi satu saja dari ketiganya, maka tak perlulah bertanya
Tapi pernahkah kita tahu bahwa bicara dalam diam itu intan permata?
Yang nilainya bukan saja berlipat kali jumlahnya, namun ia tak ternilai harganya

Bahwa bicara dalam diam adalah bertanya pada sisi lain diri ini.
Ia adalah kesempatan untuk memahami apa yang dirasakan oleh hati murni yang tak secuil pun terkotori

Sesungguhnya kita memiliki jawaban atas pertanyaan
Namun sering jawaban itu terdistorsi oleh asumsi, oleh pretensi, oleh ilusi, oleh iri dan dengki, yang menutupi gemilangnya potensi diri.

Perhatikanlah laku seorang bayi, semula ia tak punya pengalaman berjalan, ia kini telah dewasa dan senang berlari
Perhatikanlah laku seorang bayi, dia jatuh lalu berdiri, terantuk lalu berdiri lagi
Ia hanya punya naluri untuk dapat berdiri di atas dua kaki

Setiap hari kita belajar untuk kembali ke jati diri
“Jati” artinya asli, seperti kayu, jati adalah kayu terbaik yang paling banyak dicari
Jati diri adalah diri yang otentik, diri yang memiliki hati seperti seorang bayi
Tak ada spekulasi, yang ada adalah sadar penuh hadir utuh di saat ini, tanpa perlu menyesali kemarin atau takut akan esok hari
Tak ada asumsi, yang ada adalah berpadunya kesadaran, kesabaran, dan tindakan untuk terus berjalan
Tak ada ilusi, yang ada adalah cermin untuk bertanya apa solusi dari hambatan yang dihadapi
Tak ada iri dan dengki, yang adalah ada rasa untuk mengasah indera agar tetap peka dan waspada.

Kita mungkin tak akan pernah tahu seluruh jawaban dari semua pertanyaan di dunia
Tapi ketahuilah kita punya pertanyaan yang tak terhingga untuk dibagikan kepada mereka yang akan dengan sukarela dan sepenuh hati juga mempersembahkan pertanyaannya.

Jangan sekedar belajar dari pengalaman, tapi belajarlah dari masa depan.
Karena perjalanan dalam memimpin bukan sekedar belajar untuk terus menjadi pemimpin, tetapi bagaimana menjadi pemimpin untuk bisa terus belajar.

Kalaulah di satu masa kita harus kehilangan pangkat dan jabatan kita
Bukan berarti kita kehilangan kepemimpinan kita
Kita berasal dari tidak punya apa-apa
Lalu apa bedanya jika kita kembali tak punya apa-apa

Kita sering menilai diri kita dan orang lain dari rupa karyanya
Sebagian menilai cara mencapainya adalah kuncinya

Bung Karno pernah berkata dalam salah satu pidatonya “Jika kita mempunyai keinginan yang kuat dari dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu membahu mewujudkannya”

Apa niatmu ada disini, apa niatmu saat ini?

Camkanlah sahabat, hatimu menentukan lakumu, lakumu menentukan rupa karyamu
Bila hatimu tulus, maka tingkah lakumu akan lurus, dan rupa karyamu akan dalam membekas takkan mudah tergerus.

Seseorang pernah berkata “pemimpin perlu sesekali luangkan waktu berhenti”
Berhenti bicara, diam dari riuhnya kata-kata
Merenung dan menghadiri hatinya
Menyelami jernihnya kolam kesadaran yang bergelimang mutiara-mutiara kebijaksanaan

Hantarkanlah mutiara kebijaksanaan itu agar ia jadi lebih berkilau dalam bentuk karya rupa yang lebih bernilai.
Berilah kesempatan pada niatmu itu untuk kau jaga dan kau rawat agar ia menjadi tindakan nyata yang mulia

Kita takkan mampu jadi manusia paripurna bila kita tak pernah menghadiri niat untuk menepikan penilaian, iri dan kedengkian, serta ketakutan dari lubuk sanubari

Kita takkan mampu membuka pikiran kita jika isi kepala kita penuh dengan persangkaan
Maka simpanlah semua itu untuk sementara saja saat orang di depan kita berbicara

Kita takkan mampu membuka mata hati kita jika kita terus memupuk iri, dengki, dan benci.
Maka tempatkanlah diri kita pada teman bicara kita,  dan rasakan hatinya berbicara

Kita takkan mampu membuka pintu keajaiban ke alam kebijaksanaan, jika kita penuh dengan keraguan, ketakutan,  dan kekhawatiran,
Maka tulus, ikhlas, dan serahkanlah segala sesuatunya pada yang maha kuasa, Sang Hyang Pangersa.
Yang memberi hidup dan suatu saat akan mengambilnya kembali
“Mulih ka jati, mulang ka asal… Dari tanah kembali menjadi tanah, dari abu kembali menjadi abu, belajar pulang sebelum dipanggil pulang…”

Akhir kata sahabatku,
Manusia paripurna adalah mereka yang sekali waktu sadar penuh hadir utuh di dimensi saat ini, tanpa khawatir masa depan atau malu pada masa lalu
Karena masa lalu telah berlalu, dan masa depan tiada yang tahu…

Sampurasun