Makrifat Jati Diri (Bagian 1 dari 6)

Siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya  (H.R Bukhari Muslim)

Pada kesempatan posting ini saya secara pribadi mendeklarasikan untuk sejenak mengurangi upaya bermakrifat kepada Tuhan. Bukan apa-apa, lha mengenal jati diri dan menguasai ego diri sendiri saja masih berjuang mati-matian, apalagi mengenal Tuhan Semesta Alam, malu rasanya…

Pertanyaan mengenai Jati Diri mengemuka saat saya masih berusia belasan tahun ketika dalam diskusi sebuah acara keluarga, salah seorang paman mengatakan bahwa ‘perilaku anak-anak baru gede (ABG) harus lebih banyak dimaklumi, karena mereka belum menemukan ‘jati diri”

Sepanjang itulah pernyataan itu selalu terngiang. Kenapa Jati Diri harus jadi ukuran kedewasaan? Lalu kenapa ketika belum menemukan jati diri, para ABG ini harus dimaklumi? dan seberapa pentingnya sih si jati diri ini ditemukan? lalu setelah jati diri ditemukan memangnya apa dampaknya terhadap perilaku?

Satu hal yang saya pelajari dari pencarian jawaban atas pertanyaan itu adalah, jawaban akan datang dengan sendirinya pada waktu yang tak pernah terencanakan dan kadang tanpa kita sadari, jawaban makrifat jati diri itu menemukan saya melalui beberapa kejadian;

Presencing Global Forum 2014, MIT, Boston-Massachusetts, 11-12 Februari 2014

Mulai terbukanya pikiran (melihat dengan mata yang jernih)

Di antara 400-an orang dari berbagai penjuru dunia, berkumpul di ballroom kampus MIT, bersama-sama saling belajar mengkaji diri,  di sana saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai etnis, budaya, agama, dan profesi, mulai dari orang kulit putih, kulit hitam, orang Asia, orang Amerika Utara, Hispanik, Eropa Barat, Eropa Timur, pengacara, pebisnis, pemusik, pegawai negeri, Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Atheis, Yahudi, dan Agnostik…

Yang disebut dua terakhirlah yang membuka jalan menuju pengenalan jati diri saya, Rabbi Marcelo Bronstein, dan Dr. Claus Otto Scharmer, dua orang dengan latar belakang keyakinan yang berbeda, yang mana saya sebelumnya memiliki label dan penghakiman yang kuat terhadap umat Yahudi dan penganut Atheis atau Agnostik bukanlah orang yang tepat untuk mencari jawaban tentang spiritualitas. Ternyata label yang saya berikan kepada mereka tidak sesuai dengan kenyataannya, bahkan kebalikannya, orang Yahudi dan Agnostik ini memiliki cerminan, tindak tanduk, dan perilaku spiritualitas yang belum pernah saya temui dari orang-orang saudara satu budaya atau seiman. Perlahan walau samar-samar, saya mulai menemukan siapa diri saya melalui cermin yang mereka berikan melalui sebuah teknologi sosial yang bernama Theory-U.

theoryu_u

Apa itu Theory-U? mulanya saya mengerutkan dahi saat setahun sebelumnya diperkenalkan mengenai ilmu itu oleh Ibu Felia Salim dalam menyusun sebuah kurikulum program kepemimpinan. Pelan-pelan saya mulai memahami intisari yang coba diajarkan oleh Theory-U. Pada prinsipnya manusia memiliki potensi tanpa batas katakanlah tercerahkan secara ilahiah di ranah yang disebut presencing, namun ranah presencing ini dilingkupi oleh beberapa lapisan ego, lapisan ego pertama adalah suara penilaian/ penghakiman (Voice of Judgment) yang mencegah pikiran kita untuk terbuka (Open Mind), lapisan ego kedua adalah suara sinis (Voice of Cynicism) yang mencegah hati kita terbuka (Open Heart), dan lapisan ego ketiga adalah suara ketakutan (Voice of Fear) yang mencegah jiwa kita untuk terbuka (Open Will).

Bilamana kita ingin mencapai tahap presencing, tersambung ke ruh jiwa kita yang paling dalam, yang terkoneksi ke alam semesta/ Tuhan/ sumber inspirasi hakiki, maka caranya adalah kita harus mampu mengelola ketiga jenis ego tadi, karena ego pertama biasanya akan menjerumuskan kita untuk berpikiran tertutup dengan mengatakan “pemahaman saya benar dan pemahaman orang lain salah”, ego kedua juga akan menutup hati kita dengan mengatakan “hak apa orang lain yang berbeda keyakinan dari diri saya mengajari saya?”, sehingga kita akan terkotakkan dalam pemahaman “kita berbeda dengan mereka”, lalu ego terakhir juga akan menghalangi jiwa kita dengan rasa keraguan dan kekhawatiran yang mencegah untuk bertransformasi menjadi manusia yang tenang.

Saya ditunjukkan sebuah jalan menuju jati diri (presencing) itu dengan melatih panca indera kita agar terbiasa sadar penuh hadir utuh, sadar atas seluruh elemen ketubuhan dan adanya pergulatan emosi/ pikiran saat kita berperilaku dan beraktivitas, serta hadir di momen saat ini saja tanpa pikiran kita kocar kacir ke masa lalu dan masa depan (live in the moment).

Salah satu latihan adalah meditasi; kita semua diminta untuk duduk menyadari indera ketubuhan, merasakan setiap sensasi yang menjadi stimulus terhadap diri, dan tanpa upaya yang berlebihan cukup merasakan kehadiran sensasi itu tanpa menghakiminya. Sensasi itu dapat berupa apa-apa yang diterima panca indera, atau yang berupa pikiran dan perasaan yang selalu mengajak jati diri kita untuk ikut bersamanya. Bila pikiran dan perasaan itu mengajak ikut, kita kembalikan kesadaran penuh dan kehadiran utuh kita pada nafas.

Pada saat kita sadar penuh dan hadir utuh dalam dimensi ruang dan waktu disini saat ini, ada suatu kesadaran baru yang muncul, yaitu netralitas, rasa yang lebih kuat dari dualitas (suka-benci, senang-sedih, bangga-iri), rasa yang resik dari label dan penghakiman, bersih dari referensi masa lalu yang menyesatkan, dan jernih dari rasa takut serta keraguan. Ia adalah rasa yang terkoneksi dengan kesadaran yang lebih tinggi dari sekedar intelektualitas dan nafsu duniawi, rasa untuk mengabdi dan memberi kepada sesama dan semesta tanpa embel embel pamrih. Mungkin itu yang yang dinamakan Rasa Sejati, Rasa yang tersambung dengan Sang Pencipta, tempat kita menuai mutiara ilham dan solusi dari masa depan.

BERSAMBUNG

Definisi Baru Sesat

Seakan tak berhenti air bah informasi di media baik media yang dikelola perusahaan maupun individual (media sosial), menerjang dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang. Isinya ada yang fakta ada yang fiksi, bahkan tak sedikit fiksi dibuat seolah fakta alias kebohongan di ranah publik. Tak kurang pula opini bergulir jadi polemik, saling berbantahan, saling menyalahkan, saling mengkafirkan, dan saling menyesatkan.

Kata sesat-menyesatkan sekarang seolah jadi komoditas orang-orang yang ‘mengerti’ duduk persoalan agama, yang ‘mampu’ menerjemahkan wahyu Tuhan, dan ‘piawai’ mendefinisikan kebenaran mutlak lain tidak. Sehingga ukuran dari sebuah fatwa ini menjadi sarana untuk menilai dan melabeli seseorang itu sesat dan/atau menyesatkan. Luar biasa sekali ya para manusia-manusia ini yang dengan angkuh mengatasnamakan Tuhan, yang mengaku menjalani kebenaran Tuhan, padahal mungkin yang tertawa paling akhir adalah orang-orang di balik layar yang mengadu domba dan memancing di air keruh, yang menggunting dalam lipatan dan mencuri kesempatan dalam kesempitan.

Coba kita sejenak introspeksi dan bertanya pada diri sendiri: Siapa di antara kita yang (setidaknya merasa) tidak sesat? silahkan tunjuk jari. Lalu coba tanya lagi (mengutip pertanyaan Cak Nun) “kalau kita (misalnya) sebagai seorang muslim diwajibkan untuk membaca Al-Fatihah tujuh belas kali dalam sehari shalat kita yang di antaranya berbunyi:

Al-Fatihah Ayat 6

(Tunjukilah kami jalan yang lurus)

Al-Fatihah Ayat 7

((yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.)

Bukankah artinya kita ini adalah orang-orang yang tersesat tanpa pertolongan Allah Tuhan Semesta Alam? Lalu apa hak kita mengkafirkan dan menyatakan orang lain sesat? Lha wong kita sendiri saja masih minta tolong agar tidak sesat.”

Ngomong-ngomong dari monolog itu, saya jadi punya ide untuk menelurkan definisi baru dari kata ‘sesat’. Sesat dalam definisi baru ini berarti memaksa atau mengajak orang lain untuk mengikuti pemahaman/ konsepsi/ dogma tanpa kecuali, dan menyatakan yang memiliki pemahaman/ konsepsi/ dogma berbeda adalah sesat”.

Mau berpolemik? silahkan saja, mungkin anda lebih benar dan saya lebih salah. Nah… kalau sudah benar-salah, siap-siap salah satu dari kita jadi orang sesat ya… Atau gini deh, saya yang sudah sesat ga mau jadi lebih sesat, jadi saya dengan ini menolak berpolemik, apalagi kalau ujung-ujungnya debat kusir konsepsi.

Lalu mungkin anda ngotot dengan mengatakan “berani beropini harus berani berpolemik dong!” Lha itu kan kata-kata dalam konsepsi anda, konsepsi saya adalah beropini netral, dan tujuannya tidak memancing polemik, biasanya yang tersulut untuk berpolemik adalah orang yang tidak netral alias condong kepada suatu pemahaman (ini pun konsepsi saya). Berpolemik menurut saya mirip dengan bertengkar, kalah jadi abu menang jadi arang, alias ga ada gunanya kecuali tujuannya memuaskan ego ingin menang sendiri dan ingin benar sendiri. Nah kalau sudah pakai kata sendiri-sendiri, yo wes dhewe-dhewe lah.

Lho, katanya manusia itu makhluk sosial? lalu kenapa kok disuruh sendiri-sendiri alias dhewe-dhewe? bukannya jadi melawan fitrahnya sebagai makhluk yang komunal?… Maksudnya sendiri-sendiri adalah kalau sudah ego yang menguasai, lebih baik ditinggalkan transaksi jual-beli kata-kata dalam polemik, karena ujungnya adalah agenda pribadi, dan agenda pribadi biasanya berseberangan bahkan bertolak belakang dengan agenda ilahi.

Hanya dengan jiwa yang tenanglah (nafs al mutmainnah) manusia dapat menjadi manusia komunal seutuhnya. Bagaimana caranya? yaitu mengetahui bahwa kita memiliki nafs al ammarah (judgment dan cynicism) dan nafs al lawwamah (fear) untuk dikelola agar kita mampu open mind dan open heart. Dalam atmosfer open heart-lah terjadi dialog, bukan cuma ngobrol/diskusi apalagi debat/polemik, dalam atmosfer open heart-lah terjadi transformasi sosial yang tanpa agenda pribadi, yang ada adalah agenda bersama, katakanlah agenda ilahi karena dibimbing oleh hati nurani.