⁠⁠⁠Presencing-Based Coaching

⁠⁠⁠Presencing-Based Coaching
Curiosity – Compassion – Courage – Creativity

Tanggal 8 Oktober 2016 adalah momen dimana konsep presencing didaratkan dalam sebuah simulator bersama para coach APCLI (Asosiasi Profesional Coach Loop Indonesia), simulator berupa kelas pemahaman dan pembelajaran bersama membawa khazanah baru dalam konteks kepamongan (coaching) yang transendental dan ontologis yang berlandaskan pada konsep kerasahadiran; kehadiran yang berasas rasa.

Dari sesi tersebut saya pribadi belajar banyak sekali dari Kakak-kakak saya di paguyuban APCLI tentang keingintahuan, kasih sayang, keberanian, dan karya. Kemudian saya mencoba menuangkannya dalam sebentuk tulisan singkat:

Keingintahuan adalah gerbang pembelajaran, darinya saya belajar untuk ingin tahu dengan menunda apa yang telah saya tahu, tidak memaksa untuk tahu, pun tidak merasa tersiksa saat akhirnya tidak tahu

Kasih sayang adalah pembuka jalan menuju keterhubungan antar jiwa, darinya saya belajar bahwa kekuatan empati dari kasih sayang lebih besar dari kengototan mengurai perbedaan

Keberanian adalah awal dari perubahan, darinya saya belajar bahwa setiap hari saya berubah (setidaknya dari berkurangnya usia), pertama kali yang terberat adalah melepaskan ketakutan, dan membiarkan hal yang baru datang menggantikan.

Karya adalah buah dari kesatuan pikiran, perasaan, dan tindakan. Darinya saya belajar bahwa berkarya bersama yang memiliki nilai, makna, dan dimiliki oleh semua; adalah fitrah kemanusiaan saat kita mau menerima setiap jiwa dengan terbuka dan apa adanya

Dari Kak Sandra, Kak Alex, Kak Rima, Kak Muchlis, Kak Koko, Kak Dia’lah saya belajar curiosity
Dari Kak Meta, Kak Ina, Kak Anwar, Kak Ida saya belajar compassion
Dari Kak Nina, Kak Johan, Kak Maria Keyho, Kak Stevi saya belajar courage
Dari Kak Rini, Kak Wempy, Kak Hasni, Kak Tuti saya belajar creativity

Dari semuanya, saya belajar untuk mendengar dengan menunda suara penghakiman, mengalihkan suara kesangsian, dan melepaskan suara ketakutan

Terima kasih untuk semuanya
Wassalamu’alaikum wR wB
Om Santi Santi Santi Om
Shalom
Namaste
Namo Buddhaya

Suku Kanekes dan Sunda Wiwitan

Tanggal 27-28 Agustus 2016, saya melakukan perjalanan ke Suku Kanekes yang lebih dikenal dengan Suku Baduy Banten. Sebagai seorang sosiolog tanpa gelar akademik, seorang pamong (coach) tanpa akreditasi, dan seorang pengelola manusia dikarenakan profesi; tujuan saya melakukan perjalanan adalah untuk meretas akar budaya saya yang separuh Sunda dan separuh Jawa, menggali makna kesadaran diri yang netral, sentral, dan transendental, sehingga mampu berada pada situasi aktual dan menyelami anugerah menjadi pamong (coach) atau apa pun hal yang menjadi amanat sebagai profesional dalam bidang pemberdayaan manusia.

Cerita teknis perjalanan tidak perlu saya ceritakan, pengalaman setiap orang tentunya masing-masing berbeda, terutama bila menyentuh zona rasa (jiwa), interkoneksi diri dengan diri, diri dengan alam, dan diri dengan Tuhan adalah esensi mengapa saya melakukan perjalanan ini.

Sepanjang perjalanan dari Kanekes Luar ke Kanekes Dalam, saya dibantu seorang penduduk Kanekes Dalam yang mengenalkan dirinya sebagai Sarip. Sarip seperti pria-pria lain di kaumnya yang sederhana sedikit sekali berkata-kata, hanya berkata saat diajak bicara, pun bicaranya seperlunya saja.

Di sepanjang jalan yang naik, turun, terjal, curam, licin, basah, hujan, terik, dan di antara sela nafas saya yang tersengal-sengal nyaris putus, saya banyak bertanya mengenai Sarip dan hidupnya sebagai pengamal ajaran Sunda Wiwitan. Bukan tentang ritual kepercayaannya, namun tentang bagaimana seorang Sunda Wiwitan memandang dirinya, orang lain, dan dunia serta seisinya.

Sarip adalah 5 bersaudara, namun hanya 3 yang yang bertahan hidup. Sarip memiliki empat anak, namun dua meninggal dunia saat masih bayi karena panas dan diare. Dua saudaranya yang lain yaitu Sanip dan Santa masing masing memiliki 5 anak, anak Sanip tersisa dua, dan anak Santa tersisa satu, semuanya meninggal saat balita.

Sebagai orang “Kota”, memahami tingkat mortilitas (kematian) balita yang sedemikian tinggi menjadi sebuah kemirisan. Namun di wajah Sarip, Sanip, Santa, dan manusia-manusia Sunda Wiwitan yang lainnya, tak ada ekspresi sedih saat mengingat masa lalu mereka saat anak-anak mereka meninggal di pelukan mereka. Semua kejadian mereka anggap sebagai keniscayaan.

“Sedih atuh budakna Sarip maraot?” (Sedih dong anak-anaknya Sarip meninggal) Tanyaku mencoba memahami pola pikir para manusia bersahaja ini.

“Nya sedih” (Ya sedih) Tapi wajahnya tetap datar

“Basa budakna keur gering teu diubaran?” (Waktu anaknya sakit ga diobatin?)

“Nya diubaran” (Ya diobatin)

“Diubaran ku doktor?” (diobatin oleh dokter?)

“Lain, ku dadaunan” (bukan, pake herbal)

Saya tercenung, adalah merupakan kebiasaan larangan terhadap mereka meraih modernitas seperti pengobatan modern. Lalu kata saya lagi “Mun urang kota mah lolobana nepi ka gogoakan lamun budakna maot” (Kalo orang kota kebanyakan akan histeris kalau anaknya meninggal)

Sarip hanya tersenyum kecil “Tos aya nu ngatur” (sudah ada yang mengatur) Jawabnya singkat namun dalam dan penuh makna.

Ada rasa yang terkoneksi dan terpapar, bukan tentang rasa ketidakpedulian, namun kesadaran penuh bahwa hidup dan mati sejatinya sama saja, punya anak atau tidak sama saja, punya harta atau tidak juga sama saja. Dan kehadiran utuh bahwa hidup adalah tentang penerimaan saat ini tanpa syarat, dan tanpa perlu merengek segala sesuatu seharusnya terjadi berbeda.

Terlepas anggapan sebagian orang bahwa peradaban mereka dianggap tidak maju sehingga tingkat kematian tinggi membuat sebagian orang “kota” miris, namun sikap ketidakmemilihan, yaitu penerimaan total atas keputusan Sang Hyang Pangersa, semua peristiwa terjadi sesuai kehendak-NYA.

Saat kami bertukar kata yang pun hanya sedikit, ada ketersambungan rasa saat saya berada dalam diri Sarip, dan Sarip pun berada dalam diri saya, tidak ada saya dan Sarip, yang ada adalah hidangan kerasahadiran atas makna kemanusiaan. Kesatuan rasa dalam meresapi setiap aksara, kata, kalimat, alunan, intonasi, ekspresi, emosi, dan bahasa tubuh satu sama lain.

Mungkin inilah yang disebut presencing (kerasahadiran) dimana tak ada batas dalam keterhubungan jiwa, dua jiwa ini sejatinya satu sahaja. Bersatunya rasa dua manusia, bukan antara orang kota dengan orang Kanekes, bukan antara aku dengan dia, bukan antara coach dengan coachee, hanya manusia semata yang mereguk kerasahadiran dan mendulang keterhubungan dalam pendiangan percakapan…