Suku Kanekes dan Sunda Wiwitan

Tanggal 27-28 Agustus 2016, saya melakukan perjalanan ke Suku Kanekes yang lebih dikenal dengan Suku Baduy Banten. Sebagai seorang sosiolog tanpa gelar akademik, seorang pamong (coach) tanpa akreditasi, dan seorang pengelola manusia dikarenakan profesi; tujuan saya melakukan perjalanan adalah untuk meretas akar budaya saya yang separuh Sunda dan separuh Jawa, menggali makna kesadaran diri yang netral, sentral, dan transendental, sehingga mampu berada pada situasi aktual dan menyelami anugerah menjadi pamong (coach) atau apa pun hal yang menjadi amanat sebagai profesional dalam bidang pemberdayaan manusia.

Cerita teknis perjalanan tidak perlu saya ceritakan, pengalaman setiap orang tentunya masing-masing berbeda, terutama bila menyentuh zona rasa (jiwa), interkoneksi diri dengan diri, diri dengan alam, dan diri dengan Tuhan adalah esensi mengapa saya melakukan perjalanan ini.

Sepanjang perjalanan dari Kanekes Luar ke Kanekes Dalam, saya dibantu seorang penduduk Kanekes Dalam yang mengenalkan dirinya sebagai Sarip. Sarip seperti pria-pria lain di kaumnya yang sederhana sedikit sekali berkata-kata, hanya berkata saat diajak bicara, pun bicaranya seperlunya saja.

Di sepanjang jalan yang naik, turun, terjal, curam, licin, basah, hujan, terik, dan di antara sela nafas saya yang tersengal-sengal nyaris putus, saya banyak bertanya mengenai Sarip dan hidupnya sebagai pengamal ajaran Sunda Wiwitan. Bukan tentang ritual kepercayaannya, namun tentang bagaimana seorang Sunda Wiwitan memandang dirinya, orang lain, dan dunia serta seisinya.

Sarip adalah 5 bersaudara, namun hanya 3 yang yang bertahan hidup. Sarip memiliki empat anak, namun dua meninggal dunia saat masih bayi karena panas dan diare. Dua saudaranya yang lain yaitu Sanip dan Santa masing masing memiliki 5 anak, anak Sanip tersisa dua, dan anak Santa tersisa satu, semuanya meninggal saat balita.

Sebagai orang “Kota”, memahami tingkat mortilitas (kematian) balita yang sedemikian tinggi menjadi sebuah kemirisan. Namun di wajah Sarip, Sanip, Santa, dan manusia-manusia Sunda Wiwitan yang lainnya, tak ada ekspresi sedih saat mengingat masa lalu mereka saat anak-anak mereka meninggal di pelukan mereka. Semua kejadian mereka anggap sebagai keniscayaan.

“Sedih atuh budakna Sarip maraot?” (Sedih dong anak-anaknya Sarip meninggal) Tanyaku mencoba memahami pola pikir para manusia bersahaja ini.

“Nya sedih” (Ya sedih) Tapi wajahnya tetap datar

“Basa budakna keur gering teu diubaran?” (Waktu anaknya sakit ga diobatin?)

“Nya diubaran” (Ya diobatin)

“Diubaran ku doktor?” (diobatin oleh dokter?)

“Lain, ku dadaunan” (bukan, pake herbal)

Saya tercenung, adalah merupakan kebiasaan larangan terhadap mereka meraih modernitas seperti pengobatan modern. Lalu kata saya lagi “Mun urang kota mah lolobana nepi ka gogoakan lamun budakna maot” (Kalo orang kota kebanyakan akan histeris kalau anaknya meninggal)

Sarip hanya tersenyum kecil “Tos aya nu ngatur” (sudah ada yang mengatur) Jawabnya singkat namun dalam dan penuh makna.

Ada rasa yang terkoneksi dan terpapar, bukan tentang rasa ketidakpedulian, namun kesadaran penuh bahwa hidup dan mati sejatinya sama saja, punya anak atau tidak sama saja, punya harta atau tidak juga sama saja. Dan kehadiran utuh bahwa hidup adalah tentang penerimaan saat ini tanpa syarat, dan tanpa perlu merengek segala sesuatu seharusnya terjadi berbeda.

Terlepas anggapan sebagian orang bahwa peradaban mereka dianggap tidak maju sehingga tingkat kematian tinggi membuat sebagian orang “kota” miris, namun sikap ketidakmemilihan, yaitu penerimaan total atas keputusan Sang Hyang Pangersa, semua peristiwa terjadi sesuai kehendak-NYA.

Saat kami bertukar kata yang pun hanya sedikit, ada ketersambungan rasa saat saya berada dalam diri Sarip, dan Sarip pun berada dalam diri saya, tidak ada saya dan Sarip, yang ada adalah hidangan kerasahadiran atas makna kemanusiaan. Kesatuan rasa dalam meresapi setiap aksara, kata, kalimat, alunan, intonasi, ekspresi, emosi, dan bahasa tubuh satu sama lain.

Mungkin inilah yang disebut presencing (kerasahadiran) dimana tak ada batas dalam keterhubungan jiwa, dua jiwa ini sejatinya satu sahaja. Bersatunya rasa dua manusia, bukan antara orang kota dengan orang Kanekes, bukan antara aku dengan dia, bukan antara coach dengan coachee, hanya manusia semata yang mereguk kerasahadiran dan mendulang keterhubungan dalam pendiangan percakapan…

Makrifat Jati Diri (Bagian 1 dari 6)

Siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya  (H.R Bukhari Muslim)

Pada kesempatan posting ini saya secara pribadi mendeklarasikan untuk sejenak mengurangi upaya bermakrifat kepada Tuhan. Bukan apa-apa, lha mengenal jati diri dan menguasai ego diri sendiri saja masih berjuang mati-matian, apalagi mengenal Tuhan Semesta Alam, malu rasanya…

Pertanyaan mengenai Jati Diri mengemuka saat saya masih berusia belasan tahun ketika dalam diskusi sebuah acara keluarga, salah seorang paman mengatakan bahwa ‘perilaku anak-anak baru gede (ABG) harus lebih banyak dimaklumi, karena mereka belum menemukan ‘jati diri”

Sepanjang itulah pernyataan itu selalu terngiang. Kenapa Jati Diri harus jadi ukuran kedewasaan? Lalu kenapa ketika belum menemukan jati diri, para ABG ini harus dimaklumi? dan seberapa pentingnya sih si jati diri ini ditemukan? lalu setelah jati diri ditemukan memangnya apa dampaknya terhadap perilaku?

Satu hal yang saya pelajari dari pencarian jawaban atas pertanyaan itu adalah, jawaban akan datang dengan sendirinya pada waktu yang tak pernah terencanakan dan kadang tanpa kita sadari, jawaban makrifat jati diri itu menemukan saya melalui beberapa kejadian;

Presencing Global Forum 2014, MIT, Boston-Massachusetts, 11-12 Februari 2014

Mulai terbukanya pikiran (melihat dengan mata yang jernih)

Di antara 400-an orang dari berbagai penjuru dunia, berkumpul di ballroom kampus MIT, bersama-sama saling belajar mengkaji diri,  di sana saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai etnis, budaya, agama, dan profesi, mulai dari orang kulit putih, kulit hitam, orang Asia, orang Amerika Utara, Hispanik, Eropa Barat, Eropa Timur, pengacara, pebisnis, pemusik, pegawai negeri, Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Atheis, Yahudi, dan Agnostik…

Yang disebut dua terakhirlah yang membuka jalan menuju pengenalan jati diri saya, Rabbi Marcelo Bronstein, dan Dr. Claus Otto Scharmer, dua orang dengan latar belakang keyakinan yang berbeda, yang mana saya sebelumnya memiliki label dan penghakiman yang kuat terhadap umat Yahudi dan penganut Atheis atau Agnostik bukanlah orang yang tepat untuk mencari jawaban tentang spiritualitas. Ternyata label yang saya berikan kepada mereka tidak sesuai dengan kenyataannya, bahkan kebalikannya, orang Yahudi dan Agnostik ini memiliki cerminan, tindak tanduk, dan perilaku spiritualitas yang belum pernah saya temui dari orang-orang saudara satu budaya atau seiman. Perlahan walau samar-samar, saya mulai menemukan siapa diri saya melalui cermin yang mereka berikan melalui sebuah teknologi sosial yang bernama Theory-U.

theoryu_u

Apa itu Theory-U? mulanya saya mengerutkan dahi saat setahun sebelumnya diperkenalkan mengenai ilmu itu oleh Ibu Felia Salim dalam menyusun sebuah kurikulum program kepemimpinan. Pelan-pelan saya mulai memahami intisari yang coba diajarkan oleh Theory-U. Pada prinsipnya manusia memiliki potensi tanpa batas katakanlah tercerahkan secara ilahiah di ranah yang disebut presencing, namun ranah presencing ini dilingkupi oleh beberapa lapisan ego, lapisan ego pertama adalah suara penilaian/ penghakiman (Voice of Judgment) yang mencegah pikiran kita untuk terbuka (Open Mind), lapisan ego kedua adalah suara sinis (Voice of Cynicism) yang mencegah hati kita terbuka (Open Heart), dan lapisan ego ketiga adalah suara ketakutan (Voice of Fear) yang mencegah jiwa kita untuk terbuka (Open Will).

Bilamana kita ingin mencapai tahap presencing, tersambung ke ruh jiwa kita yang paling dalam, yang terkoneksi ke alam semesta/ Tuhan/ sumber inspirasi hakiki, maka caranya adalah kita harus mampu mengelola ketiga jenis ego tadi, karena ego pertama biasanya akan menjerumuskan kita untuk berpikiran tertutup dengan mengatakan “pemahaman saya benar dan pemahaman orang lain salah”, ego kedua juga akan menutup hati kita dengan mengatakan “hak apa orang lain yang berbeda keyakinan dari diri saya mengajari saya?”, sehingga kita akan terkotakkan dalam pemahaman “kita berbeda dengan mereka”, lalu ego terakhir juga akan menghalangi jiwa kita dengan rasa keraguan dan kekhawatiran yang mencegah untuk bertransformasi menjadi manusia yang tenang.

Saya ditunjukkan sebuah jalan menuju jati diri (presencing) itu dengan melatih panca indera kita agar terbiasa sadar penuh hadir utuh, sadar atas seluruh elemen ketubuhan dan adanya pergulatan emosi/ pikiran saat kita berperilaku dan beraktivitas, serta hadir di momen saat ini saja tanpa pikiran kita kocar kacir ke masa lalu dan masa depan (live in the moment).

Salah satu latihan adalah meditasi; kita semua diminta untuk duduk menyadari indera ketubuhan, merasakan setiap sensasi yang menjadi stimulus terhadap diri, dan tanpa upaya yang berlebihan cukup merasakan kehadiran sensasi itu tanpa menghakiminya. Sensasi itu dapat berupa apa-apa yang diterima panca indera, atau yang berupa pikiran dan perasaan yang selalu mengajak jati diri kita untuk ikut bersamanya. Bila pikiran dan perasaan itu mengajak ikut, kita kembalikan kesadaran penuh dan kehadiran utuh kita pada nafas.

Pada saat kita sadar penuh dan hadir utuh dalam dimensi ruang dan waktu disini saat ini, ada suatu kesadaran baru yang muncul, yaitu netralitas, rasa yang lebih kuat dari dualitas (suka-benci, senang-sedih, bangga-iri), rasa yang resik dari label dan penghakiman, bersih dari referensi masa lalu yang menyesatkan, dan jernih dari rasa takut serta keraguan. Ia adalah rasa yang terkoneksi dengan kesadaran yang lebih tinggi dari sekedar intelektualitas dan nafsu duniawi, rasa untuk mengabdi dan memberi kepada sesama dan semesta tanpa embel embel pamrih. Mungkin itu yang yang dinamakan Rasa Sejati, Rasa yang tersambung dengan Sang Pencipta, tempat kita menuai mutiara ilham dan solusi dari masa depan.

BERSAMBUNG